News Categories: Berita Aktual

20 Feb
By: admin 0 0

Wagub Tinjau UPTD Unggas di Aceh Besar

Aceh Besar – Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Asisten Bidang Perekonomian dan pembangunan Aceh, Taqwallah meninjau UPTD unggas yang dikelola Dinas Peterknakan Aceh di Blang Bintang, Rabu (14/02/2017).

Nova Iriansyah sangat mengapresiasi Dinas Peternakan Aceh yang sudah merevitalisasi fasilitas UPTD unggas sehingga menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Aceh dan meningkatkan perekomian masyarakat.

“Yang paling penting harus ada dampak positif bagi masyarakat dan tentunya dapat mengurangi angka kemiskinan,” ujar Nova.

Nova berharap, Kepala Dinas Peternakan Aceh untuk membuat gagasan – gagasan baru untuk mengembangkan UPTD unggas sehingga nantinya mampu memenuhi kebutuhan telur di provinsi Aceh dan mengurangi pasokan telur dari Medan.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zulyazaini Yahya menyampaikan, UPTD unggas Blang Bintang memiliki kapasitas kandang sebanyak 100 ekor ayam dan pabrik pakan ayam berkapasitas 8 ton.

Untuk saat ini kata Zulyazaini, hanya terdapat 45 ribu ekor ayam yang sudah mulai berproduksi sejak tahun 2017.

“Tahun ini kita targetkan mencapai 100 ribu ekor ayam dan pabrik pakan juga akan kita operasionalkan kembali,” ujar Zulyazaini.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah juga menyempatkan diri untuk melihat langsung kondisi kandang ayam dan pabrik pakan di UPTD tersebut.

 

 

Sumber : humas.acehprov.go.id

Read More
12 Feb
By: admin 0 0

Pembukaan Klinik Hewan

BANDA ACEH — Dinas Peternakan Aceh melalui Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner melaunching Klinik Hewan, Banda Aceh, Senin (5/2/2018). Kadisnak Aceh, drh Zulyazaini Yahya Msi langsung meresmikan Klinik Hewan.
Dalam wawancaranya kepada Atjehnet menyampaikan, akan mampu memberikan pelayanan kesehatan hewan kepada petani ternak dan masyarakat dalam penanganan penyakit hewan, pelayanan reproduksi dan diseminasi informasi hingga terkait penyakit hewan lainnya.
“Objek dari pelayanan kesehatan hewan adalah kelompok tani ternak, badan usaha peternakan dan masyarakat peternak secara individual dimana memberikan pelayanan kesehatan hewan dengan tiga pola yaitu, aktif, semi aktif dan pasif,” ungkapnya.
Zulyazaini jelasnya, upaya peningkatan pelayanan kesehatan hewan khususnya didukung oleh UPTD Lab Veteriner sebagai penunjang diagnose penyakit,hal tersebut juga merupakan tanggung jawab kita bersama tentunya saat ini dan masa akan datang dalam menghadapi tantangan yang lebih berat.
Sementara itu, Kabid Keswan dan Veteriner, drh Muslim menambahkan, Klinik Hewan sebagai salah satu penguat kelembagaan pelayanan kesehatan hewan guna pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang disebabkan oleh bakteri, protozoa parasite maupun virus.
“Klinik hewan memberikan pelayanan gratis untuk saat ini, adapun jenis pelayanan yang diberikan adalah, pelayanan medis preventif, pelayanan medis kuratif dan konsultasi, pelayanan bedah, rawat inap serta house call,” katanya drh Muslim.
Sumber : https://www.netatjeh.info/2018/02/kadisnak-aceh-lounching-klinik-hewan.html
Read More
22 Dec
By: admin 0 3

Dinas Peternakan Aceh Susun Masterplan

BANDA ACEH – Dinas Peternakan (Disnak) Aceh sedang menyusun masterplan pembangunan kawasan peternakan di Aceh dengan bantuan tenaga ahli dari Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk menambah bobot draf masterplan, Selasa (5/12) kemarin digelar seminar yang menghadirkan berbagai pihak di Hotel Grand Arabia, Banda Aceh. Peserta seminar terdiri atas unsur SKPA/badan di lingkungan pemerintah Aceh, Bappeda dan SKPK yang berwenang di bidang peternakan dari 23 kabupaten/kota, akademsi dari Unsyiah dan IPB.

Seminar ini menghasilkan draf masterplan pengembangan kawasan peternakan Aceh yang terbagi dalam beberapa cluster, yaitu cluster pembibitan, penggemukan, pengolahan, dan cluster industri.

Kadis Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya, M.Si disela-sela seminar kepada Serambi mengatakan, hasil seminar menyepakati bahwa masterplan akan direview kembali tentang penyusunan cluster dan zona peternakan berdasarkan komoditas unggulan spesifik daerah. “Diharapkan masterplan ini akan menjadi acuan bagi perencanaan peternakan di provinsi dan seluruh kabupaten/kota di Aceh,” kata Zulyazaini Yahya.

Dikatakan Zulyazaini, seminar tersebut merupakan salah satu tahapan dalam penyusunan rencana induk tersebut. Draf masterplan itu sendiri telah lama dirancang dengan melibatkan tujuh pakar dari IPB. “Tim dari IPB sudah berkeliling kabupaten/kota untuk mencari masukan dalam menyusun draf masterplan tersebut,” katanya.

Hasil akhir seminar nanti akan berbentuk dokumen induk yang akan dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan di bidang peternakan, baik di tingkat provins maupun kabupaten/kota, sehingga akan mampu mewujudkan visi gubernur Aceh, yakni terwujudnya ketahanan dan kedaulatan pangan, khususnya daging.

Salah satu narasumber dalam seminar tersebut yang juga tim penyusun masterplan Profesor Lucky Abdullah mengatakan, terjadi transformasi sub-sektor peternakan dari cluster pembibitan dan penggemukan menjadi cluster industri dan pengolahan, sehingga semua lini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi pada tahun 2028, baik dari bahan baku utama maupun sampai ke limbahnya

Untuk pembuatan masterplan peternakan tahun 2018 – 2028, ditawarkan 11 strategi dalam perencanaan selama 10 tahun ke depan. “Melalui pengembangan kawasan, bahan-bahan yang tidak berguna akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” kata Guru Besar dari IPB ini.

Selama ini, ada beberapa komoditi peternakan yang sudah berkembang di daerah, seperti potensi sapi perah di Bener Meriah yang pernah exist dan lahan peternakan turun temurun seluas 4.166 hektare. Ada pula potensi pabrik pakan di Bireuen. Di beberapa kabupaten/kota, ada ribuan hektare lahan milik pemkab yang tidak difungsikan. “Ini merupakan potensi yang luar biasa jika bisa dimanfaatkan,” kata Zulyazaini Yahya.

Kadis Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya M.Si mengatakan, hampir setiap tahun, khususnya saat meugang, harga daging melonjak tinggi. Bahkan pernah disebut-sebut yang termahal di dunia. Penyebabnya, kata Zulyazaini, tata niaga tidak betul. “Selama ini ada persoalan di tata niaga, ternak tak ada pada saat yang dibutuhkan. Peternak tak mau melepaskan saat dibutuhkan, sehingga menjadi mahal harga daging,” tandasnya.

Dengan adanya masterplan, diharapkan persoalan tersebut tidak akan muncul lagi. Zulyazaini mengatakan, masterplan tersebut bisa dituntaskan pada akhir tahun ini. “Insya Allah selesai akhir tahun,” kata Kadis Peternakan Aceh ini.

 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/12/06/disnak-aceh-susun-masterplan

 

Read More
21 Dec
By: admin 0 2

Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Peternakan Prov. Aceh Tahun 2017

Sektor peternakan merupakan salah satu sektor andalan di Provinsi Aceh dimana dalam pembangunan dan pengembangannya saat ini dan kedepan akan berhadapan dengan perubahan-perubahan lingkungan strategis yang harus mampu direspon dengan baik melalui suatu sistem perencanaan yang sistematis dan terprogram.

Pembangunan peternakan memerlukan desain yang matang dimulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan (monitoring) sampai kepada tahap evaluasi. Koordinasi dalam implementasi pembangunan peternakan mutlak diperlukan sehingga pagu anggaran untuk sub sektor peternakan yang jumlahnya terbatas dapat dimanfaatkan secara maksimal dan efektif agar mampu menghasilkan kegiatan-kegiatan yang produktif yang dapat memberdayakan masyarakat peternak, peningkatan pelayanan dan menggerakkan investasi.

Sebagai bagian dari proses perencanaan, maka Dinas Peternakan Aceh mengadakan Kegiatan Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Peternakan Prov. Aceh  pada tanggal 28-30 November 2017 di Hotel Grand Nanggoe Banda Aceh.

kegiatan Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Peternakan Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2017 memiliki nilai yang penting dan strategis dalam rangka sinkronisasi kebijakan, program dan kegiatan antara pelaku pembangunan peternakan baik di provinsi maupun di Kabupaten/Kota khususnya untuk kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan dana Otonomi Khusus dan Tambahan Bagi Hasil Migas dan Gas Bumi Tahun 2018.

Kegiatan ini dihadiri oleh Peserta yang berjumlah 73 orang dari seluruh Kepala Dinas Kab/Kota yang menangani fungsi kesehatan hewan dan peternakan, Bappeda, BPKA, Sekretaris/Kepala Bidang/Kepala UPTD, dll.

 

 

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Pertemuan Perencanaan Pengembangan Kawasan Peternakan Aceh tahun 2017

Kegiatan Rapat Perencanaan Pengembangan Kawasan Peternakan Aceh tahun 2017 merupakan rapat antara setelah tim turun ke lapangan beberapa waktu yang lalu yang dilaksanakan pada tanggal 16 oktober 2017 dan bertempat di Hotel Oasis.

Peserta yang hadir terdiri dari tim pelaksana dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tim perencana kawasan peternakan, tim pengawasan kawasan peternakan dan KPH seluruh provinsi Aceh.

Dengan adanya kegiatan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Peternakan Aceh ini potensi yang ada Provinsi Aceh untuk pengembangan peternakan dapat ditingkatkan dan segala faktor-faktor yang menghambat pengembangan kawasan peternakan dapat di minimalisir. Dengan demikian pengembangan kawasan peternakan dapat dipercepat sehingga bisa meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat sekitar kawasan peternakan khususnya dan masyarakat Aceh umumnya.

Pengembangan sub-sektor peternakan perlu dukungan dari semua pihak, isu meningkatnya harga daging dari waktu ke waktu. Menurunnya populasi ternak besar terutama ternak kerbau sebesar 30% per tahun, menyempitnya lahan pengembalaan kiranya sub-sektor ini perlu mendapat perhatian dan startegi pengembangan. Disamping itu pula kurang berkembangnya agroindustri peternakan di Provinsi Aceh menyebabkan peningkatan populasi dan produktifitas ternak mengalami perlambatan.

Melalui Rapat Perencanaan Pengembangan Kawasan Peternakan ini diharapkan kepada semua stakeholder agar dapat menyamakan persepsi dalam rangka pengembangan kawasan peternakan di Provinsi Aceh yang tentunya sangat membutuhkan perhatian dari semua lini sehingga kegiatan ini dapat bermanfaat dan membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

 

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Presiden Jokowi Serahkan Sapi Qurban Untuk Aceh

Aceh Besar – Presiden Joko Widodo menyerahkan hewan kurban berupa satu ekor sapi seberat 830 kg untuk di Kurbankan pada Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah di Aceh.

Sapi tersebut diserahkan oleh Staf Ahli Kepresidenan yang diterima oleh Kepala Biro Isra Setda Aceh, Sulaiman di Gampong Lam Ara Tunong, Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar, Kamis (24/08/17).

Staf Ahli Kepresidenan bersama Kepala Biro Isra, Sulaiman dan Kepala Dinas Peternakan Aceh drh. Zulyazaini Yahya mendatangi langsung ke lokasi peternakan untuk melihat sapi tersebut sebelum diserahkan kepada kepada Pemerintah Aceh.

Sapi yang dibeli dari M. Rizal Masyarakat Gampong Lam Ara Tunong. Sapi tersebut berjenis kelamin jantan dari ras Brangus dan telah berumur 4,5 tahun.

Hewan kurban tersebut nantinya akan disembelih bersama dengan hewan kurban lainya pada hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah.

Tahun sebelumnya, Presiden Jokowi juga menyumbangkan sapi kurban untuk Aceh dengan berat seberat 1.093 Kg.

 

Sumber : http://humas.acehprov.go.id/presiden-jokowi-serahkan-sapi-qurban-untuk-aceh/

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Rapat Sinkronisasi Program Pembangunan Peternakan Prov. Aceh Tahun 2018

Sektor peternakan merupakan salah satu sektor andalan di Provinsi Aceh dimana dalam pembangunan dan pengembangannya saat ini dan kedepan akan berhadapan dengan perubahan-perubahan lingkungan strategis yang harus mampu direspon dengan baik melalui suatu sistem perencanaan yang sistematis dan terprogram.

Pembangunan peternakan memerlukan desain yang matang dimulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan (monitoring) sampai kepada tahap evaluasi. Sinkronisasi dalam implementasi pembangunan peternakan mutlak  diperlukan sehingga pagu anggaran untuk sub sektor peternakan yang jumlahnya terbatas dapat dimanfaatkan secara maksimal dan efektif agar mampu menghasilkan kegiatan-kegiatan yang produktif yang dapat memberdayakan masyarakat peternak, peningkatan pelayanan dan menggerakkan investasi.

 

 

Dengan berakhirnya rapat sinkronisasi ini diharapkan terwujudnya perencanaan pembangunan peternakan antar kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh terutama dalam pemanfaatan dana Otsus-TBH Migas Tahun 2018.

 

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Barsela Endemis Penyakit Ngorok

BANDA ACEH – Penyakit Septicemia Epizootica (SE) atau ngorok yang menyerang kawanan kerbau di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) bukanlah penyakit baru. Data Dinas Peternakan Aceh, penyakit ini ternyata sudah lama ada (endemis). Tidak hanya di Abdya, tetapi juga di hampir semua kabupaten/kota di wilayah barat selatan Aceh (Barsela).

“Karena daerah endemis, maka kasusnya selalu berulang. Hanya saja tidak dalam skala besar, paling hanya beberapa ternak saja yang terserang, tidak sampai ribuan,” kata Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya kepada Serambi secara khusus kemarin. Ia turut didampingi Sekretaris Dinas drh Marjuani, Kabid Keswan dan Kesmavet drh Muslem, Tenaga Ahli drh M Taufan, serta Wakil Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Aceh drh T Reza Ferasyi MSc PhD.

“Kalau ribuan, maka itu namanya epedemi (wabah). Kalau itu terjadi, wah itu masalah besar, bisa jadi perhatian nasional,” tambahnya lagi.

Zulyazaini mengaku telah menurunkan tim khusus ke lapangan untuk menyelidiki kasus tersebut, menyusul beredarnya kabar ada ribuan kerbau di Abdya yang terserang SE. Laporan yang dia terima, dari total populasi kerbau sebanyak 4.362 ekor, kerbau yang mati akibat SE hanya 16 ekor, yang dipotong paksa 15 ekor, dan yang dijual 13 ekor.

Itu pun, katanya, kerbau-kerbau yang terserang penyakit adalah kerbau yang dibiarkan liar di hutan pegunungan oleh pemiliknya, yang memang tidak memungkinkan untuk dilakukan vaksinasi. “Inilah salah satu kendala mengapa penyakit SE sulit diberantas,” imbuh kepala dinas yang akrab disapa Pak Zul ini.

Menurutnya penyakit SE bukanlah penyakit yang menular ke manusia (zoonosis), sehingga aman untuk dikonsumsi. Tetapi dari aspek ekonomi, apabila tidak ditangani, SE bisa sangat merugikan pemilik ternak. “Karena itu, kita mengimbau kerbau-kerbau yang terserang SE tidak langsung dijual. Penyakit ini bisa ditangani, sehingga pemilik ternak tidak rugi karena harga jualnya yang jatuh,” pintanya.

Karena merupakan penyakit endemis yang akan kembali berulang, Zulyazaini berharap pemerintah kabupaten/kota di wilayah barat selatan agar lebih proaktif melakukan penanganan sebaran penyakit SE.

“Harus ada upaya untuk mengantisipasi atau menekan jangkitan penyakit ini, dan upaya tersebut harus masuk dalam perencanaan daerah. Kami selalu siap membantu, baik melalui distribusi obat dan vaksin, serta memberikan pendampingan,” sebutnya.

Ia juga meminta pemerintah kabupaten/kota mengencarkan program sosialisasi ke masyarakat tentang penyakit SE, sehingga masyarakat mengetahui dampak kerugian yang ditimbulkan, serta cara penanganannya. “Pemahaman masyarakat soal penyakit SE masih sangat rendah, sehingga mereka tidak peduli dan membiarkan ternaknya liar di hutan tidak divaksin,” demikian Zulyazaini Yahya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Aceh drh T Reza Ferasyi, memandang perlunya mengoptimalkan instansi kesehatan hewan dan peternakan di daerah.

Disamping untuk penanganan penyakit, juga untuk mendukung program nasional, yaitu Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) dalam rangka meningkatkan populasi ternak.

“Instansi itu tidak mesti harus berbentuk dinas, bisa juga setingkat kantor, dan ini ada di setiap kabupaten/kota,” ucapnya.

Ia juga mengimbau pemerintah kabupaten/kota agar menempatkan tenaga medik veteriner (dokter hewan) sesuai dengan keahliannya. Di samping untuk meningkatkan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, juga dalam rangka mengimplementasikan PP No 3 Tahun 2017 tentang Otoritas Veteriner.

“Saya juga mengharapkan para tenaga medik veteriner yang tergabung dalam PDHI Aceh agar dapat berperan aktif mendukung upaya pengendalian penyakit hewan, khususnya penyakit-penyakit strategis,” harap wakil ketua PDHI Aceh ini.

 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/07/12/barsela-endemis-penyakit-ngorok

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Aceh Juara Umum Penas

Provinsi Aceh meraih juara umum Pekan Nasional (Penas) XV Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) tahun 2017 yang berlangsung di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh, 6-11 Mei 2017. Keberhasilan ini diperoleh setelah memenangi lima katagori perlombaan yang berkenaan dengan pertanian.

Hal itu diumumkan oleh Ketua KTNA Pusat, Winarno Tohir, di hadapan peserta Penas XV Tani dan Nelayan, saat penutupan kegiatan itu di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Kamis (11/5). Kegiatan itu dihadiri Sekretaris Jenderal Kementan, Hari Priyono, Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, dan undangan lainnya.

“Dari sejumlah kegiatan yang dilakukan seperti lomba stand katagori agribisnis, lomba asah terampil, lomba gitanusantara, lomba busana nusantara, dan lomba temu karya. Yang menjadi juara umum adalah Provinsi Aceh,” kata Winarno yang disambut tepuk tangan peserta.

Kepada Provinsi Aceh, Winarno kemudian menyerahkan dua voucher hand tractor karya anak bangsa sebagai hadiah juara umum, yang diterima langsung oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. Selain itu, penghargaan juga diserahkan kepada beberapa kepala daerah dan petani yang berprestasi dalam bidang pertanian. Kemarin, juga diumumkan tuan rumah Penas XVI KTNA tahun 2020 yaitu Sumatera Barat.

Winarno dalam sambutannya menyampaikan, selama acara ini pihaknya juga melaksanakan beberapa kegiatan lain, pameran yang menampilkan beragam produk unggulan, gelar teknologi, tukar menukar pengalaman sesama petani, penyuluh serta peneliti tentang keberhasilan pertanian, pertandingan persahaban, serta kegiatan lainnya.

Menurut Winarno, pelaksanaan Penas XV KTNA di Aceh berlangsung aman dan nyaman. Ini tidak terlepas dari pelayanan baik yang diberikan masyarakat Aceh. “Hal yang paling berharga bagi kami adalah keramahtamahan masyarakat yang membuat kami merasa senang, aman, dan nyaman selama berada di pemukiman dan di lokasi acara,” ujarnya.

Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Andi Sulaiman yang diwakili Sekretaris Jenderal Kementan, Hari Priyono, menyampaikan bahwa pemerintah selama ini telah melaksanakan berbagai program yang sudah dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Ini bisa dilihat dari peningkatan produksi utama yang kini tidak lagi diimpor seperti beras, jagung, dan komuditi lainnya.

“Ini menunjukkan satu indikator bahwa kita punya kemampuan dalam rangka memanfaatkan pertanian sebagai ruang ekonomi dan meningkatkan ketahanan serta kedaulatan pangan. Kami menyerukan kepada semua petani dan nelayan agar lebih berperan aktif dalam melaksanakan program pembangunan,” katanya.

Tarian massal
Amatan Serambi, penutupan Penas XV KTNA berlangsung meriah dengan menampilkan tarian massal oleh 500 penari. Tetapi peserta Penas yang menghadiri acara penutupan kemarin tidak seramai pada pembukaan. Peserta hanya berkumpul di bawah tenda di tengah lapangan. Acara tersebut ditutup oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah ditandai dengan pemukulan tambo.

Pada acara kemarin juga diumumkan tuan rumah pelaksanaan Penas XVI KTNA tahun 2020 yaitu Sumatera Barat. Pengumuman itu disampaikan melalui pantun yang dibacakan oleh Ketua KTNA Pusat, Winarno di akhir sambutannya. Kopi Aceh menjadi kenangan yang berkah Makan Mi rebus dan buah pisang Kita berpisah Penas XV di Serambi Mekkah Jumpa lagi di Penas XVI di Bumi Minang.

 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/05/12/aceh-juara-umum-penas

Read More
20 Dec
By: admin 0 2

Limousine, Lembu Terberat di Penas KTNA

BANDA ACEH – Dari sekitar 100 ekor sapi yang dipamerkan pada Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XV di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, sapi jenis limousine diklaim yang paling berat.

Menurut pemiliknya, Syarifuddin, berat limousine ini mencapai 944 kg dan berusia 4 tahun. Saat Serambi mengonfirmasi tentang limousine, menjelang tengah hari kemarin, hewan ternak itu sedang diberi makan.

“Lhee go siuroe tabi eumpeun/tiga kali sehari kita beri makan,” kata Syarifuddin, peternak dari Aceh Utara. Menurutnya, pakan diberikan secara selang-seling antara rumput gajah (Pennisetum purpureum, dalam bahasa Aceh disebut naleung kleng), pelet, batang pisang, dedak, dan ampas tahu.

Sejauh ini sapi jenis limousine milik Syarifuddin, sehari-harinya menghabiskan pakan 30 kg. Untuk pakan jenis pelet 1 zak (50 kg) dijatahkan sebagai persediaan 3 minggu, dengan biaya Rp 180 ribu.

Sapi berbadan besar, turunan sapi dari kawasan Limousine dan Marche di Prancis bagian barat tersebut, menurut Syarifuddin, hampir tidak pernah sakit. Dalam pertumbuhannya, hanya ada sekali demam saja. Sapi yang tak diberinya nama panggilan itu, selama ini secara berkala mendapat injeksi medis, misalnya, vitamin dan suntikan antipenyakit yang biasanya dihargakan Rp 300 ribu sekali suntik.

Sejauh ini Syarifudiin hanya mengeluhkan soal ketersediaan ampas tahu dalam jumlah besar yang tidak selalu lancar diperolehnya.

Sapi limousine pedaging Syarifuddin, hingga kemarin sudah ditawar pembeli Rp 65 juta. Hingga saat ini, Syarifuddin sudah memiliki lima sapi jenis yang sama.

Menurut rencana, Syarifuddin akan mengikutkan limousine seberat 944 kg tersebut diacara lelang hewan ternak pada hari terakhir Penas KTNA.

Sementara itu, masih pada lokasi yang sama, ada sapi dengan ras induk simmental yang memiliki berat 930 kg berusia 4 tahun dari Lam Ateuk, Aceh Besar.

Menurut peternak sapi, Faisal, sapi tersebut memiliki induk brahman yang dikawinkan dengan simmental. “Harganya saya kasih Rp 100 juta, kalau nggak laku gak apa-apa. Saya potong sendiri untuk anak-anak yatim,” katanya.

Pemilik sapi dan kerbau lainnya, Salman mengatakan ia membawa seekor sapi dan seekor kerbau dari Meulaboh, Aceh Barat, ke arena Penas KTNA. Sapi jenis brahman yang ia bawa itu beratnya 790 kg dalam usia 2 tahun 8 bulan, sedangkan kerbau aceh beratnya 762 kg dalam usia 4 tahun.

Jenis makanan yang diberikan untuk sapi tersebut, Salman menambahkan berupa konsentrat, rumput gajah, labu jepang, dan wortel. “Dan untuk minumnya paling sedikit 15 sampai 20 liter per hari. Sedangkan untuk kerbau, harus dikubang dulu selama 3 sampai 4 jam, itu dilakukan untuk merangsang makannya,” kata Salman yang menyebutkan untuk sapi miliknya dibuka harga lelang lebih kurang Rp 60 juta.

Untuk pelelangan, dikatakannya akan dilakukan selesai acara Penas KTNA pada 11 Mei mendatang dan diumumkan pemenang. Selanjutnya baru dilelang. Lain halnya dengan Maimun, pemiliki sapi dari Meulaboh ini tidak akan melelang sapinya. Ia mengaku hanya ikut meramaikan acara Expo Peternakan di Penas KTNA XV.

Sapi milik Maimun ini memiliki bobot 825,5 kg dalam usia 3 kg. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah, rumput lapangan, serta buah-buahan. Panitia Expo Peternakan Penas KTNA XV, Mansur yang ditanyai Serambi menyebutkan ada tujuh kategori sapi yang meramaikan kegiatan Penas tahun ini. Yaitu simmental, limousine, brahman, bali, sapi aceh, brangus, dan kerbau.

“Sapi dan kerbau ini berasal dari 17 kabupaten/kota di Aceh, masing-masing kabupaten/kota membawa ketujuh kategori tersebut. Tapi tidak semua kabupaten/kota membawa ketujuhnya, jadi lebih kurang ada 100 sapi dan kerbau di area expo peternakan ini,” sebutnya.

Menurutnya, dari kategori sapi tersebut yang menjadi primadona saat ini adalah simmental, limousine, dan bragus karena cepat besar, sehingga dapat memberikan keuntungan besar kepada pemiliknya.

 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/05/09/limousine-lembu-terberat-di-penas-ktna

Read More